Selasa, Februari 14, 2017

MIMPI JOKOWI MENJADI BAPAK INFRASTRUKTUR INDONESIA Vs HUTANG LUAR NEGERI





- BELAJAR DARI PENDAHULUNYA [ Soeharto - Bapak Pembangunan Indonesia ]



Selama 30 tahun era Soeharto, pembangunan sangat terasa bahkan sampai ke desa-desa. Anda yang sempat mengalami era orde baru tentu masih ingat dengan slogan "Listrik Masuk Desa" dan program Repelita 1 s/d 6. Bahkan sejak pendidikan tingkat dasar (SD) kita sudah dijejali dengan materi Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) tersebut. 
30 tahun masa pemerintahan bukanlah waktu yang singkat, lalu bagaimana dengan hasilnya? Indonesia mencapai swasembada pangan pada era ini, pertumbuhan ekonomi mencapai rata-rata 7-8% (sebelum krisis ekonomi), kesejahteraan penduduk meningkat, terjadi perubahan sektor ekonomi & lapangan kerja, berkembangnya investasi & ekspor, dan proyek yang dihasilkan dari Hutang Luar Negeri. 
Dana pembangunan pada era Orde Baru tidak lain bersumber dari Hutang Luar Negeri. Tercatat pada masa Orde Baru berkuasa, Hutang Luar Negeri sebesar 1500 Triliun Rupiah yang jika dirata-rata hutang negara selama 32 tahun bertambah sekitar 47 Triliun Rupiah pertahun. Dari angka fantastis tersebut hanya 73% yang dapat disalurkan dalam bentuk proyek/program, sedang sisanya 27% menjadi penjaman yang tidak efektif. Belum lagi proyek-proyek yang dijalankan ternyata hanya menyuburkan korupsi yang mendarah daging dari golongan elite pemerintahan dan keluarganya sampai ke pelosok aparatur negara di pedesaan. Tidak hanya itu, hutang luar negeri mensyaratkan proyek harus dikerjakan oleh konsulat dan korporasi yang ditunjuk oleh mereka sehingga memperparah terjadinya mark-up/penggelembungan dari nilai riil proyeknya dan dikuasainya pengelolaan sektor-sektor penting oleh swasta/ bangsa lain. Lalu, dari pengalaman Orde Baru tersebut bisa anda nilai sendiri, sebesar apakah efektifitas Hutang Luar Negeri?

Bahkan sampai sekarang hampir diusia 72 tahun Indonesia merdeka, kita masih merasakan dampak dari besarnya hutang luar negeri. Berdasarkan data tahun 2016 76% pemasukan dari pajak hanya untuk membayar cicilan utang dan bunganya, padahal pajak adalah sumber penerimaan utama negara. Tercatat pada january 2016 penerimaan pajak hanya 62.2 triliun, sementara negara membayar cicilan utang dan bunganya sebesar 47.4 triliun. Belum lagi warisan budaya korupsi yang masih merajalela, sumber daya alam yang banyak dikuasai pihak asing seperti Freeport, Newmont, BP, Exxon, dll. Sebagai contoh freeport yang sudah hampir setengah abad mengeruk kekayaan alam papua. Berdasarkan catatan Human Right For Social Justice keuntunga  PT. Freeport di papua perhari mencapai 114 milyar rupiah atau 3534 triliun rupiah per bulan dan royalti yang diberikan ke pemerintah Indonesia 1 s/d 4 % saja. Ironisnya rakyat Papua yang seharusnya punya hak atas kekayaan alamnya justru tidak mendapatkan manfaat keuntungan apapun, masih dalam belitan kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan & kesejahteraan, dan justru harus mewariskan dampak kerusaka  ekologis pada keturunan mereka



- antara AMBISI dan BENCANA [ Jokowi - Bapak Infrastruktur Indonesia

January 2016 posisi utang Indonesia tembus di angka 4234 triliun rupiah 
(sumber : cnnindonesia.com)

Tampaknya hasil kerja nyata semacam itu juga yang ingin dicapai selama 5 tahun pemerintahan Jokowi dengan rencana pembangunan Infrastruktur. Jokowi memang sejak kampanye mengatakan kalau perekonomian negara ingin naik, infrastruktur harus dibenahi. Bahkan ada salah satu media online beberapa waktu lalu yang menyebut " Jokowi Bapak Infrastruktur Indonesia , membangun Infrastruktur Terbesar Dalam Sejarah Indonesia " pada subject beritanya.



Namun ada kekhawatiran mengerikan yang terbersit dibalik rencana pembangunan yang bisa dibilang terlalu optimistis tersebut terkait sumber pendanaannya. Barangkali isu yang paling perlu dibahas adalah bagaimana berbagai proyek pembangunan tersebut jangan sampai menjadi sarana untuk menjerat negara Indonesia dalam libatan hutang tanpa ujung. Hutang luar negeri untuk membantu pembangunan negara tak lain merupakan proses pembohongan publik. Hutang luar negri tidak lain adalah sarana mencurangi dan menipu negara dengan meminjamkan utang yang melebihi kemampuan negara untuk membayar, dan kemudian menguasainya. 

Rencana pembangunan yang terlalu optimistis tersebut membuat saya teringat dengan dua buku kontroversial yang didalamnya berisi pengakuan mengenai latarbelakang kelam beberapa kejadian penting di dunia (salah satunya di Indonesia). Buku yang pertama berjudul "The New Rules of The World" yang ditulis oleh John Pilger seorang jurnalis Australia yang tinggal di Inggris. Buku tersebut diantaranya mengulas fakta dibalik dimulainya liberalisasi ekonomi Indonesia pada awal Orde Baru. Pilger yang merujuk analisis dokumen historis Jeffrey Winters dan Brad Sampson m2ngungkap latar belakang diadakannya Konfrensi Jenewa 1967 yang disponsori oleh Time-Life Corporation. Konfrensi yang disebutnya sebagai "pertemuan merancang pengambil-alihan Indonesia" itu diikuti oleh korporat raksasa Barat dan ekonom-ekonom top Indonesia yang kemudian dikenal sebagai "Berkeley Mafia". Konfrensi 3 hari itu berbuah "kaplingisasi" kekayaan alam di Indonesia. Freeport mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat, Konsorsium Eropa menguasai nikel di Papua Barat, Alcoa mendapat bagian terbesar bauksit di Indonesia, dan kelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat, dan Kalimantan.

Buku kedua berjudul "Confession of an Economic Hitman" yang ditulis oleh John Perkins, seorang yang berprofesi sebagai Economic Hitman (EHM) yang bukan hanya mengacaukan hidup satu dua orang, satu dua masyarakat, namun dia mengacaukan hidup rakyat di beberapa negara. EHM adalah seorang pofesional terlatih yang ditugaskan membujuk negara-negara didunia untuk menggunakan dana pinjaman Internasional dari Bank Dunia, USAID dan bantuan luar negeri lainnya yang sumbernya dari dana korporasi raksasa dan pendapatan beberapa keluarga kaya yang mengendalikan sumber-sumber daya alam planet bumi ini serta negara adidaya yang berkepentingan untuk menguasai sumber daya di negara incarannya. Cara kerja EHM adalah mendekati / berdiplomasi dengan para pemimpin berbagai negara untuk meyakinkan mereka dengan prediksi ekonomi yang sangat optimis dan potensi kemajuan yang akan terjadi dengan negara mereka berdasarkan hasil penelitiannya. Sehingga pada akhirnya kepala negara tersebut setuju dengan idenya dan mau menjalankan proyek tersebut. Proyek ini membutuhkan dana yang sangat besar diluar kemampuan pembiayaan negaranya sehingga harus berhutang keluar negeri yang pada akhirnya membelenggu negara.

Salah satu contoh riil dirasakan oleh rakyat Indonesia ketika zaman orde baru yang dipimpin oleh Soeharto. Berdasarkan pengakuan EHM pada buku tersebut, pada saat itu ada 11 orang team yang salah satunya adalah John Perkins datang ke Indonesia dan memulai penelitiannya mengenai pembangunan listrik di Indonesia. Perkins ke Indonesia adalah memprediksikan kemajuan-kemajuan yang akan dialami oleh Indonesia ketika membangun pembangkit-pembangkit listrik di nusantara, kemajuan ini dapat dilihat dari pendapatan Negara yang akan meningkat karena dengan membangun listrik ini akan meningkatkan produksi kelompok-kelompok usaha atau perusahaan-perusahaan di Indonesia. Sehingga pada akhirnya Indonesia tertarik dan mau untuk berhutang ke world bank maupun IMF.

Kesejahteraan dan kemajuan-kemajuan yang diprediksikan EHM ini terbukti hanya sekedar pemanis saja, dan pemanis ini mengandung racun yang sangat berbahaya. Sampai sekarang sangat sulit bagi Indonesia untuk terlepas dari hutang ini, bahkan bunga dari hutang luar negeri Indonesia mendekati jumlah hutang pokoknya.

Berkaca pada pengakuan EHM tersebut mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada era Orde Baru, tidakkah seharusnya pemerintah mengkaji kembali rencara ambisius Presiden Jokowi untuk menjadi Bapak Infrastruktur Indonesia ?

Minggu, April 05, 2009

Penyelesaian Operation Research Problem menggunakan Algoritma Lingo/Lindo

LINDO (Linear, Interactive, and Discreate Optimizer) merupakan suatu software yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan optimasi. Lingo menggunakan syntax yang cukupsederhana dalam penulisan program. Fungsi tujuannya cukup dengan menuliskan MAX untuk mencari nilai maksimum atau MIN untuk mencari nilai minimum dari suatu permasalahan optimasi. Berikut adalah contoh program lindo yang digunakan untuk menyelesaikan problem 3.4-15 dari buku hillier, liberman. “Introduction to Operations Research, 7th Edition” 3.4-15. The Weigelt Corporation has three branch plants with excess production capacity. Fortunately, the corporation has a new product ready to begin production, and all three plants have this capability, so some of the excess capacity can be used in this way. This product can be made in three sizes—large, medium, andsmall—that yield a net unit profit of $420, $360, and $300, respectively. Plants 1, 2, and 3 have the excess capacity to produce 750, 900, and 450 units per day of this product, respectively, regardless of the size or combination of sizes involved. The amount of available in-process storage space also imposes a limitation on the production rates of the new product. Plants 1, 2, and 3 have 13,000, 12,000, and 5,000 square feet, respectively, of in-process storage space available for a day’s production of this product. Each unit of the large, medium, and small sizes produced per day requires 20, 15, and 12 square feet, respectively. Sales forecasts indicate that if available, 900, 1,200, and 750 units of the large, medium, and small sizes, respectively, would be sold per day. At each plant, some employees will need to be laid off unless most of the plant’s excess production capacity can be used to produce the new product. To avoid layoffs if possible, management has decided that the plants should use the same percentage of their excess capacity to produce the new product. Management wishes to know how much of each of the sizes should be produced by each of the plants to maximize profit. (a) Formulate a linear programming model for this problem. (b) Solve this model by the simplex method. dari hasil program tersebut terdapat tiga hasil yaitu Objective Function Value, Objective Coefficient Ranges dan Righthand Slide Ranges. 1. Objective Function Value Merupakan hasil optimal dari program LINDO. Dari penyelesaian diatas didapatkan hasil 597600 yang sebenarnya diperoleh dari substitusi nilai X1,X2,….,X9 pada Z = 420 (X1 + X2 + X3) + 360 (X4 + X5 + X6) + 300 (X7 + X8 + X9) jadi Z = 420 (557.1429 + 342.8571 + 0) + 360 (0 + 30.47619 + 329.5238) + 300 (0 + 295.2381 + 4.761905) = 597.600 reduce cost adalah seberapa besar kenaikan laba (untuk fungsi maksimasi) atau penurunan biaya (untuk fungsi minimasi) agar fariabel keputusan yang bernilai nol pada hasil optimum menjadi bernilai positif. Jadi variable yang bernilai nol merupakan variable keputusan yang tidak terpakai pada formulasi tersebut. Untuk menjadikan veriabel keputusan yang tidak terpakai pada menjadi terpakai, nilai original value variable keputusan harus ditambah reduce cost. Dual prices adalah pertambahan nilai optimal sebesar dual prices apabila pada baris tersebut nilai RHS-nya ditambah ! unit. Pada Slack dan dual prices fungsi kendala aktif bila dual prices mempunyai nilai dan slack bernilai nol, artinya tidak ada slack yang terjadi. Sebaliknya bila fungsi kendala mempunyai slack bernilai positif kita sebut kendala non aktif. Dual prices adalah pertambahan nilai optimal sebesar dual prices apabila pada baris tersebut nilai RHS-nya ditambah ! unit. 2. Objective Coefficient Ranges Objective Coefficient adalah besarnya nilai variable keputusan pada fungsi tujuan. Range disini diartikan sebagai rentang koefisien fungsi tujuan tanpa perubahan hasil optimal variable keputusan. Pada Objective Coefficient terdapat colom variable keputusan, kemudian koefisien fungsi tujuan yang sekarang(current coeff) serta allowable increase/decrease(max/min penambahan/pengurangan). 3. Righthand Slide (RHS) Ranges RHS adalah sumber daya (resources) atau permintaan (demand) pada persoalan linear programming.
bersamboong broo........
ke Penyelesaian Pake' metode SIMPLEX

Senin, Februari 23, 2009

SUCCESS STORY OPERATION RESEARCH MENGGUNAKAN METODE LEAN SIX SIGMA

Pendekatan Lean Six Sigma di POSCO POSCO berhasil menjadi produsen baja global dunia melalui implementasi Lean Six Sigma. Bagaimana kisah sukses mereka? Berikut ini adalah ulasan singkatnya. Perusahaan baja POSCO mengalami privatisasi pada tahun 2000. Saat itu, keunggulan biaya rendah mereka tersaingi oleh pesaing yang muncul dari daerah lain, terutama Cina, apalagi perekonomian Korea saat itu sedang melemah. Namun, ini tidak melonggarkan target POSCO untuk menjadi produsen lokal berbiaya rendah menjadi produsen global dengan value-added. Ini memicu perusahaan untuk berkomitmen menggunakan Lean Six Sigma untuk melakukan transformasi pada perusahaan dan menciptakan mindset yang market-driven di seluruh penjuru perusahaan. Awalnya, bagian R&D menolak ide implementasi Lean Six Sigma karena merasa pendekatan ini terlalu ‘Barat’ bagi perusahaan Asia. Namun setelah sesi pelatihan, opini ini mulai berubah. Manajemen senior justru mengirim para teknisi untuk melakukan riset pada konsumen, sehingga diskusi yang mendalam menghasilkan ide solusi yang inovatif. Nyatanya, setelah menganalisa input dari pelanggan, potensi pasar dan kemampuan perusahaan, maka ditemukan dua pasar yang paling berpotensi bagi perusahaan, yakni perkapalan dan otomotif. Manajemen senior kemudian berusaha menyelaraskan seluruh penjuru organisasi dengan kedua prioritas ini. Proyek yang tidak berkontribusi kepada value-added dibatalkan. Melalui Lean Six Sigma, maka perusahaan diharuskan untuk memperhatikan kebutuhan konsumen terus menerus. Perubahan model bisnis yang fokus ke perkapalan dan otomotif juga menghasilkan inovasi produk dari POSCO. Misalnya, mereka berhasil menciptakan baja yang anti karat meskipun ada di air laut. Selain itu, mereka juga menciptakan 21 jenis baja berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan industri tertentu. Analisis Six Sigma menunjukkan, bahwa meskipun Cina adalah produsen baja terbesar dunia, namun terdapat gap antara kemampuan produksi dan permintaan di negara tersebut. Sehingga, memberi kesempatan bagi POSCO, yang pada akhirnya melakukan ekspansi ke Cina dengan melakukan 14 joint venture dan berinvestasi menjadi 14 pada 2003. Selain itu, pendekatan ini juga membantu POSCO dalam mencapai tujuan lain, yakni melindungi alam Korea. Selama Perang Korea, alam mereka banyak yang rusak, dan seringkali perusahaan melupakan dampak tindakan mereka terhadap lingkungan. Melalui pendekatan Lean Six Sigma, perusahaan menciptakan proses yang mampu mengeliminasi polutan. Pendekatan Lean Six Sigma telah memungkinkan POSCO untuk mencapai targetnya sebagai produsen global dengan value-added pada 2005. Mereka juga kini merupakan produsen baja ketiga terbesar dunia dan tercatat punya efisiensi dan profitabilitas tinggi. World Steel Dynamics bahkan mengukuhkan mereka sebagai "Perusahaan Baja Terkompetititif di Dunia" selama tiga tahun berturut-turut.
ScottishPower dan Implementasi Lean Six Sigma Lean Six Sigma tidak hanya mendorong terjadinya fokus terhadap pelanggan dan proses yang lebih baik, melainkan juga turut membantu dalam memecahkan masalah yang dihadapi perusahaan. Berikut ini adalah kisah sukses ScottishPower, perusahaan energi terbesar di Skotlandia, dalam mengimplementasikan Six Sigma. Tahun 2001, ScottishPower mulai kehilangan pangsa pasar akibat deregulasi pada sektor ritel energi di Inggris. Pemerintah yang bertanggung jawab terhadap supply energi yang aman dan andal mulai melakukannya setelah adanya keluhan dari konsumen. Citra pendekatan Lean Six Sigma yang identik dengan perusahaan manufaktur tidak menghalangi ScottishPower untuk turut mengadopsi pendekatan tersebut. Mereka bertujuan untuk mendorong inovasi dalam bisnisnya yang berbasis pada layanan. Usaha pertama mereka adalah mengadakan departemen ‘Business Transformation’ serta memberikan pelatihan bagi ratusan karyawan. Apa yang dilakukan Lean Six Sigma pada ScottishPower?Melalui pendekatan Lean Six Sigma, mereka dapat menemukan sumber ketidakpuasan pelanggan. Belakangan ternyata diketahui bahwa sebagian besar pelanggan hilang karena mereka pindah rumah. Ketika pelanggan memutuskan layanan, customer service langsung memutusnya begitu saja, tanpa mempertimbangkan kemungkinan bahwa penelpon butuh layanan di tempat lain. Ketika Lean Six Sigma berhasil menemukan sebab dari tergerusnya pangsa pasar ScottishPower, mereka mengubah proses yang akan mentransfer panggilan pelanggan ke advisor yang kemudian akan menawarkan layanan di tempat tinggal baru mereka. Bahkan, terdapat insentif financial bagi customer service yang melakukan transfer. Sehingga, kini melalui Lean Six Sigma, perusahaan berhasil menutup kelemahan dengan mendesain proses baru yang memungkinkan tim penjualan untuk mendekati penduduk-penduduk baru di alamat yang mereka tuju. Sehingga, bukannya kehilangan pelanggan, namun potensi penjualan justru meningkat. Awalnya, ScottishPower meluncurkan sebanyak 130 proyek Lean Six Sigma. Aktivitas lainnya termasuk menggalakkan kampanye pemasaran yang meningkatkan penggunaan pembayaran debet sebesar 14 persen, hingga proses pendaftaran yang disederhanakan yang mendongkrak akuisisi pelanggan sebanyak 20 persen. Pendekatan Lean Six Sigma ini berhasil membantu ScottishPower dalam meningkatkan jumlah pelanggannya dari angka 3.2 juta orang menjadi 5.1 juta orang hanya dalam kurun waktu 4 tahun, yang berarti 40,000 orang pelanggan baru tiap bulannya selama periode tersebut. Ini sungguh kontras dengan tren melemahnya jumlah pelanggan pada pesaing-pesaing ScottishPower. Apalagi mereka bersaing merebutkan pasar rumah tangga dengan jumlah yang relative stabil. Melalui pendekatan Lean Six Sigma, Scottish Power telah merealisasikan tambahan pendapatan dan penghematan biaya sebesar $170 juta